• Selasa, 17 Mei 2022

Kisah Para Ulama Menghormati Kepakaran Satu Sama Lain

- Selasa, 16 November 2021 | 11:10 WIB
Prof. Quraish Shihab menyambut kedatangan Imam Bear Al-Azhar Ahmad Atthayyib di Indonesia pada 2016 lalu (Republika)
Prof. Quraish Shihab menyambut kedatangan Imam Bear Al-Azhar Ahmad Atthayyib di Indonesia pada 2016 lalu (Republika)

BASIS13 - Saat Imam Izzuddin bin Abdussalam datang di Kairo, Syeikhul Madrasah al-Kamiliyah al-Hafizh al-Mundziri (penulis al-Targhib wat Tarhib) enggan berfatwa. Bagi beliau, setelah adanya Sulthanul Ulama maka otoritas fatwa langsung pindah ke tangannya.

Waktu masih di Damaskus, Syekh Ibn Abdissalam itu mengajar hadis, dan ketika tiba di Kairo beliau enggan lagi mengajar hadis tapi justru ikut bersila untuk belajar di majelis al-Hafizh al-Mundziri. Kalau ada permasalahan pelik soal hadis beliau akan bertanya pada al-Hafizh. Ini soal tahu diri. Tahu posisi.

Di Mesir, kepakaran masih dipegang erat. Banyak Masyayikh enggan bicara di luar kapasitasnya. Senior NU Mesir, Dr. Ahmad Ikhwani, pernah cerita secara langsung pada penulis bahwa saat konsultasi disertasi, jika tanya fiqh hadis pada Syekh Ma’bad [pakar ilal] akan dioper bertanya langsung pada Syekh Mustafa Abu Imarah [pakar fiqh hadis], dan juga sebaliknya.

Betapa masing-masing memiliki sisi paling dalam. Sisi paling ia ketahui. Jika semua berbicara di wilayah yang betul-betul dikuasai, tak ada istilah matinya kepakaran. Tak ada kekacauan publik yang dipantik oleh informasi pengetahuan.

Baca Juga: Food Festival Islamabad jadi Ajang Promosi Makanan Halal Mahasiswa Indonesia di Pakistan

Yang paling mengejutkan lagi adalah cerita Prof. Quraish Shihab saat di KBRI Kairo antara tahun 2018 dan 2019 lau. Beliau cerita soal kepakaran dan saling tahu diri yang sangat dijunjung tinggi di Al-Azhar. Dan itu masih betul-betul dijalankan oleh masyayikh dan para dosen. Salah satu contoh faktual waktu itu adalah uswah dari Grand Syekh al-Azhar Ahmad Attayeb yang terjadi pada pendiri Pusat Studi Al-Quran Jakarta itu.

Saat kunjungan di Universitas Muhammadiyah Jogja, Imam Besar al-Azhar Ahmat Athayyib hendak naik ke panggung. Sebelum naik, beliau mendekati Prof. Quraish, “Maulana saya mohon izin, nanti di panggung insyaallah saya akan menjelaskan beberapa ayat.”

Prof. Quraish terperanjat. Orang nomor satu di Al-Azhar minta izin menafsirkan sebagian ayat pada beliau. Jelas karena memang tafsir adalah domain penulis Tafsir al-Misbah itu, dan latar belakang Prof. Ahmad Attayeb akidah filsafat.

Grand Syeikh Azhar menghormati wilayah orang lain, kendati beliau amat sangat layak di wilayah yang sama. “Syuf (coba lihat), beliau itu Syeikhul azhar. Beliau punya kelayakan di sana, tapi beliau tetap menghormati wilayah keilmuan. Sebenarnya beliau tak perlu minta izin pada saya.” ujar murid Syekh Abdul Halim Mahmud itu.

Halaman:

Editor: Andry Boom

Sumber: sanadmedia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ini Makanan Yang Bisa Merawat Ginjal

Rabu, 1 Desember 2021 | 16:25 WIB

Obyek Wisata Banyu Mili Mulai Dibanjiri Wisatawan

Senin, 22 November 2021 | 11:59 WIB

Kisah Para Ulama Menghormati Kepakaran Satu Sama Lain

Selasa, 16 November 2021 | 11:10 WIB

Hanya Lima Menit dalam Sehari Waktu Rehat untuk Si Ibu

Senin, 15 November 2021 | 13:41 WIB

Memanjakan Mata di Eko Wisata Dayeuh Manggung

Sabtu, 13 November 2021 | 08:03 WIB
X